SEKILAS TENTANG SUSU SAPI

Filed under Tips 4 Comments

Postingan ini di cuplik secuplik-cupliknya alias copy tanpa darat :) alias ngutip abis dari blognya mba lita *thanks mba lita*, alasannya simple banget, postingan mba lita ini menambah referensi elmuku tentang per-susu-an sapi.

Kali ini mengupas sedikit tentang susu sapi, macam-macam dan tingkatannya, kelebihan dan kekurangannya, semoga bisa menjadi referensi untuk memilih susu terbaik untuk buah hati moms & dads semua…karena semua keputusan ada ditangan ortu kan?…

Saya sendiri memutuskan untuk memberikan Marvel susu UHT semenjak dia menginjak umur 14 bulan. Meskipun sampai sekarang anakku masih ASI yang dicampur UHT namun satu tahun pertama dia dulu saya diberikan Tuhan kelebihan untuk mampu memberi ASI tanpa campuran formula *thanks Lord*, setelah itu sempat dua bulan memilihkan susu formula yang kemudian beralih ke susu UHT setelah melalui browsing dari internet dan referensi milis tercintaku serta pendapat seorang dokter yang sempat aku tanyai mengenai persusuan.
Maka bulatlah tekadku pindah ke susu UHT, tentu setelah melewati diskusi dengan suami tercintah yang juga membaca referensi sesudah ku print. Kebetulan juga mamaku yang ‘orang kesehatan’ maksudnya bidan gitu :) ikut support dengan pilihanku, beliau juga bilang sekarang susu UHT lagi disosialisasikan di semua puskesmas yang dibagikan gratis ke anak-anak balita di posyandu, begitu ceritanya mengapa saya beralih ke susu UHT, tentu dibalik kekurangan dan kelebihan susu UHT itu sendiri.

Meskipun begitu saya sudah bersiap-siap dengan pandangan aneh orang-orang yang melihat heran ketika saya memberikan buah hati saya susu UHT itu, saya maklum dengan kondisi itu karena di negeri ini sudah terbiasa atau mungkin di kulturkan untuk mengkonsumsi susu bubuk *saya hasil produksi susu formula waktu baby juga looo :) * yang dipropagandakan melalui iklan mengandung vitamin ini itu plus dengan embel-embel AHA, ADHA dst…

Semoga posting ini bisa menjadi inspirasi moms or dads yang kebetulan singgah di blogku ini *nuhuun, terimakasih, sie-sie, mauliate godang…dah mampir kesini*, atau kalo mo tau lebih lengkap boleh gabung di milis tercintaku … yuhuuuu mba dev, mba ike, jeng dince …guwehh promosii yak?? oks doonk kalau membangun, ya kan? :) kopdar selalu kunanti :)

Yoo moms, dads … keputusan terakhir tetep ada ditanganmu …

* * * * * Yuukk kita baca….yuuuuukkkk….!! * * * * *

Kali ini mau menebus janji untuk menulis tentang susu. Sesedikit yang saya tahu. Selamat membaca.

Per kata, susu adalah makanan cair yang diproduksi oleh kelenjar susu mamalia betina. Dalam istilah, kata susu juga digunakan untuk cairan pengganti susu (nah lho!) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya susu kedelai (atau coconut milk dalam perbendaharaan istilah bahasa Inggris).

Sedangkan definisi susu secara kimiawi adalah emulsi (campuran zat yang tidak saling larut) butiran lemak dalam cairan berbahan dasar air. Dalam kata lain, kandungan terbesar susu adalah air dan lemak.

Susu mentah
Susu mentah adalah susu yang tidak diproses, baik pasteurisasi (pemanasan) maupun homogenisasi(perlakuan tekanan udara terhadap susu untuk mencegah krim terpisah dari cairan) sebelum dikonsumsi oleh manusia. Rasanya berbeda dibandingkan dengan susu yang diproses, begitu juga dengan kemudahan cernanya.

Tidak ada kesepakatan yang definitif apakah susu mentah lebih menyehatkan dibandingkan dengan susu yang diproses lebih dulu. Yang pasti, susu mentah lebih berisiko menyebabkan penyakit akibat kemungkinan hadirnya mikroorganisme patogen.

Sanitasi dapat mencegah kontaminasi sebisa mungkin. Tapi memastikan matinya kontaminan patogen lebih penting daripada menjunjung selisih nutrisi antara susu mentah dan susu terproses. Lagipula, susu bukan makanan utama manusia (kecuali pada 1 tahun pertama kehidupan). Bagian besar nutrisi anda diperoleh dari makanan dengan pola konsumsi yang sesuai piramida makanan.

Di artikel ini dijelaskan mengapa susu segar mentah memiliki segala keuntungan dibandingkan dengan susu segar yang diproses, khususnya pasteurisasi. Jika ingin membacanya, harap diingat bahwa tulisan tersebut dibuat tahun 1938 saat teknologi pasteurisasi masih sangat terbatas, jadi mungkin tidak lagi sepenuhnya berlaku saat ini.

Pihak yang mendukung konsumsi susu mentah misalnya Realmilk (sumber artikel yang saya sebut di paragraf sebelum ini). Para pendukung susu mentah punya segala alasan untuk mengatakan bahwa susu mentah adalah yang terbaik. Mereka bahkan mengklaim bahwa anak sapi yang diberi susu pasteurisasi akan mati sebelum dewasa. Mereka percaya:

Pasteurisasi membunuh sebagian besar (jika tidak semua) mikroorganisme alami (termasuk yang menguntungkan karena membantu proses pencernaan dan metabolisme susu) dan merusak banyak kandungan nutrisi.

Bakteri baik (probiotik, pasti pernah denger dong di iklan? ) meningkatkan kesehatan dengan cara menekan jumlah bakteri jahat dan membantu mencegah pertumbuhan ragi di usus, misalnya Candida.

Pasteurisasi menghancurkan enzim yang membantu proses pencernaan. Laktase adalah enzim yang diproduksi oleh bakteri yang terdapat pada susu mentah -yang tidak dipasteurisasi- yang membantu pencernaan gula susu (laktosa), sehingga segelintir ‘penderita’ intoleransi laktosa dapat mengonsumsi produk susu non-pasteurisasi.

Pada whole milk (maksudnya, susu yang utuh dengan segala apapun yang ada secara alami di dalamnya) dan percaya bahwa lemak dalam susu mentah dapat meningkatkan kesehatan.

Membeli susu langsung dari peternakan dapat (sekali lagi: dapat! tidak harus berarti ’selalu’) berarti mendapatkan susu yang usianya baru beberapa menit, atau maksimal jam, yang jika didinginkan dengan layak dapat bertahan selama 8 hari. Berlawanan dengan kebanyakan susu pasteurisasi yang dijual di supermarket, yang berumur 5-6 hari.

Pihak yang menentang konsumsi susu mentah misalnya adalah US-FDA. Berikut adalah penggalan dari artikelnya (FDA Consumer magazine, September-October 2004 Issue):

” Meminum susu mentah atau produk-susu dalam keadaan mentah adalah seperti “bermain rolet Rusia (berjudi) dengan kesehatan anda,” ujar John Sheehan, direktur Divisi Keamanan Produk Susu dan Telur di FDA. “Kami mendapati sejumlah kasus kejadian penyakit yang menular lewat makanan setiap tahunnya yang berkaitan dengan konsumsi susu mentah.”

Pada tahun 2001, lebih dari 300 orang di Amerika Serikat jatuh sakit setelah minum susu mentah atau makan keju yang dibuat dari susu mentah. Sedangkan pada tahun 2002, hampir 200 orang sakit akibat hal yang sama, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC, Centers for Disease Control and Prevention).

Susu mentah dapat menjadi inang bagi organisme patogen (penyebab penyakit), seperti bakteri campylobacter, escherichia, listeria, salmonella, yersinia, dan brucella. Gejala umum dari penyakit yang bersumber dari makanan (yang mengandung bakteri-bakteri tersebut) adalah diare, kram perut, demam, sakit kepala, muntah-muntah, dan lemas.

Kebanyakan orang yang sehat, pulih dari penyakit yang bersumber dari makanan dalam waktu singkat, tapi beberapa orang dapat mengalami sekumpulan gejala yang sifatnya kronis, parah, atau bahkan mengancam jiwa.

Orang-orang dengan kekebalan tubuh yang (me)lemah, misalnya manula, anak-anak, dan yang mengalami penyakit atau dalam kondisi tertentu, paling berisiko terhadap infeksi patogen yang mungkin terdapat dalam susu mentah.

Pada ibu hamil, penyakit yang disebabkan oleh Listeria monocytogenes dapat mengakibatkan keguguran, kematian janin, atau bayi-baru-lahir yang sakit atau mati. Sedangkan infeksi yang disebabkan oleh Escherichia coli bisa menyebabkan sindrom hemolytic uremic, suatu kondisi yang dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian.

Beberapa penyakit yang dapat dicegah oleh proses pasteurisasi adalah tuberkulosis, diphteri, polio, salmonelosis, radang tenggorokan (bakterial), demam scarlet, dan tipus

Susu segar
Jenis susu ini hanya sedikit berbeda dengan susu mentah. Susu mentah pasti ™ tidak diproses. Sedangkan susu segar (yang diedarkan oleh penjual berkendara motor dengan tabung sebesar tabung gas, misalnya) sebagian ada yang sudah dipasteurisasi dulu di peternakan.

Karena itu, saya cenderung pada pengertian bahwa susu segar adalah ‘whole milk‘, susu hasil perahan yang tidak ditambahkan apa-apa dan tidak mengalami proses yang mengubah bentuknya.

Untuk tahu apakah susu segar berstatus mentah atau dipasteurisasi lebih dulu, tanyakan pada penjualnya.

Sayangnya, karena susu segar juga ada yang tidak berlabel (hanya berjudul ’susu segar’), kita tidak bisa tahu apakah susu ditambahi air, vitamin, pengawet, perasa, diproses dulu, atau sudah diskim (diambil lemak susunya). Ada baiknya untuk hanya membeli susu segar dari produsen, pengedar atau pengecer yang sudah anda kenal baik dan dipercaya.

Susu pasteurisasi
Pasteurisasi adalah proses memanaskan makanan dengan tujuan membunuh organisme patogen (dapat menyebabkan penyakit) seperti bakteri, virus, protozoa, jamur (kapang), dan ragi.

Tidak seperti sterilisasi yang mematikan semua mikroorganisme, baik yang patogen maupun yang menguntungkan. Pasteurisasi mengurangi jumlah mikroorganisme hidup hingga tidak lagi berisiko menyebabkan penyakit (dengan asumsi produk yang telah dipasteurisasi disimpan dalam keadaan dingin dan dikonsumsi sebelum tanggal kadaluarsa).

Segolongan orang berpendapat bahwa kasein dalam susu pasteurisasi telah berubah menjadi beta-casomorphin-7, yang diduga ada hubungannya dengan autisme. Argumentasi ini didasarkan pada pengetahuan yang kurang layak tentang pencernaan kasein.

Yang mengubah kasein menjadi casomorphin adalah sistem pencernaan manusia, bukan proses pasteurisasi susu. Dengan demikian sumber kasein, apapun bentuknya (susu pasteurisasi, keju, yogurt, dan lain-lain), hasil cernanya tetap sama.

Sebagai tambahan, kasein tidak terdegradasi pada temperatur proses pasteurisasi, tapi terkoagulasi (tergumpalkan) pada saat dididihkan. Ini menjelaskan mengapa susu yang dididihkan memiliki konsistensi (penampakan ‘kesatuan bentuk’) yang berbeda. Dan karena itulah, sebaiknya susu tidak dididihkan.

Untuk definisi pendidihan sendiri, sila simak boiling, agar tidak rancu dengan pernyataan ‘kalau begitu saat susu dipanaskan dengan pasteurisasi atau UHT maka kaseinnya rusak, karena susunya dididihkan’.

Susu UHT (Ultra-High Temperature processing)

Susu UHT tidak berbeda jauh dengan susu pasteurisasi. Sama-sama dengan panas (tapi temperaturnya berbeda), sama-sama memperhitungkan waktu pemanasan, yang keduanya bertujuan untuk meminimasi mikroorganisme patogen namun tetap menjaga keutuhan kandungan gizi (kerusakan sesedikit mungkin).

Bedanya dengan pasteurisasi, UHT membunuh semua mikroorganisme. Karena itu, susu UHT dikenal juga dengan sebutan susu steril.

Membedakan produk susu pasteurisasi dan susu UHT

Kemasan
Susu pasteurisasi biasanya dikemas dalam kotak karton dengan bagian atas menyerupai bentuk atap rumah (limas segiempat). Dulu untuk membuka kemasan harus dengan merobeknya (sistem cubit-tarik, pinch-pull). Sekarang kebanyakan sudah memakai tutup berulir, mirip tutup botol sirup.

Sedangkan kemasan susu UHT biasanya berbentuk balok dengan bagian atas mendatar. Dulu untuk membuka kemasan, bagian tepi atas kotak harus ditarik lalu digunting. Sekarang kebanyakan sudah memakai tutup , dengflip-topan segel dalam berupa lembaran alumunium.

Tempat penyimpanan
Susu pasteurisasi HARUS disimpan di lemari pendingin. Tak ada pilihan lain. Dengan begitu anda tak akan menemukannya di rak biasa (tak berpendingin) bersama produk minuman atau susu lain.

Sedangkan susu UHT dapat disimpan di rak biasa atau lemari pendingin. Umumnya di rak biasa, demi penghematan. Dan kalau ada yang diletakkan di lemari pendingin, itu adalah layanan ekstra untuk pelanggan yang suka produk dingin.

Shelf-life
Umur simpan susu pasteurisasi maksimal 1 minggu terhitung sejak tanggal produksi. Catatan penting, umur simpan ini dipengaruhi oleh temperatur penyimpanan (biasanya tertera di kemasan). Dengan begitu, semakin tinggi temperatur penyimpanan, semakin singkat umur simpannya (mencapai beberapa jam saja).

Umur simpan susu UHT bisa mencapai 1 tahun terhitung sejak tanggal produksi, tergantung proses dan produsennya. Dengan catatan, jika sudah dibuka, maka umur simpan (yang berbulan-bulan itu) tidak berlaku lagi dan sisa susu (jika tidak langsung habis diminum) harus disimpan di lemari pendingin.

Kenapa umur simpannya berbeda? Karena perlakuan proses kedua jenis susu tersebut berbeda. Lihat lagi penjelasan sebelumnya tentang susu UHT.

Merek
Ini memang hanya dapat anda ‘kuasai’ jika sangat terbiasa dan teratur menyambangi supermarket serta pengamat-produk yang jeli.

Beberapa produsen hanya membuat susu pasteurisasi dan tidak membuat susu UHT (misalnya merek D*amond). Begitu juga sebaliknya, ada pula yang hanya membuat susu UHT dan tidak memproduksi susu pasteurisasi (misalnya merek U*tra). Ada pula yang membuat keduanya, seperti I*domilk.

Label
Jika anda merasa tidak yakin, cermati labelnya. Ada merek susu UHT terkenal yang ternyata tidak mencantumkan bahwa produk tersebut diproses secara UHT (misalnya U*tra). Tapi tanggal kadaluarsanya jelas ‘berkata’ bahwa susu tersebut adalah susu UHT (karena berlaku setahun).

Sedangkan produk susu pasteurisasi setidaknya punya keterangan penyimpanan (temperatur versus waktu) berupa diagram atau tabel sederhana.

Susu bubuk
Susu bubuk dibuat dari padatan susu yang dikeringkan. Cukup menarik untuk diketahui bahwa susu bubuk banyak ditemukan di negara-negara berkembang akibat biaya transportasi dan penyimpanan yang lebih murah (karena tidak memerlukan pendinginan) dibandingkan jenis susu yang disebutkan sebelum ini.

*Hoho… jadi jelas bahwa bentuk susu bukanlah lambang kemakmuran, seperti mungkin disangka sebagian orang bahwa susu bubuk lebih baik, lebih bergizi, lebih higinis, dan (yang paling gak penting) lebih bergengsi (iye soale harganya -kebanyakan- lebih mahal, terutama jika dikeluarkan produsen semacam Wy*th)*

Semakin panjang proses, semakin banyak nutrisi yang rusak/hilang. Dan tentu saja proses dari susu segar hingga susu bubuk memiliki tahap yang lebih banyak daripada susu yang ‘hanya’ dipasteurisasi atau diproses secara UHT. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa susu bubuk ada di bagian bawah ‘rantai kualitas’ produk susu.

Untuk mengatasi kehilangan nutrisi, produsen susu bubuk lalu menambahkan (fortify) berbagai vitamin, mineral, dan apapun itu (dari yang penting sampai yang belum ketahuan penting/tidaknya) ke dalam produk susunya. Dikurangi, lalu ditambal, kemudian dijual dengan iklan ‘diperkuat dengan A, B, C’. Begitu kira-kira.

Demikian sekilas dari saya. Mohon bantu saya melengkapi

Beberapa taut sumber:

- Sejarah, konsumsi, produksi, dan komposisi susu (sayang Indonesia tidak masuk daftar; data terbaru tahun 2004)

- Standar konstruksi peternakan

- Got milk? Make sure it’s pasteurized.

- Food labeling dengan pembaruan pada label yang mencantumkan trans-fat (hiks, baru diberlakukan penuh di negara maju).

- Susu organik lebih menyehatkan? Jangan langsung percaya!
- Organized organic crime. Sisi gelap perjuangan menuju 100% organik. Ouch.

- Milk is milk. The simple truth. Blognya di sini.


Recent love from: IbethmataDewi ♥ arisukma ♥

Written by Marvel's Mom January 31, 2007